
Parkir dan Rasa Aman
Wednesday, July 4, 2007Bandara Juanda Surabaya, Minggu 1 Juli 07 pukul enam malem…
Jadwal flight ku ke jakarta masih satu jam sepuluh menit lagi, baru saja aku dan temanku erwin yang telah berbaik hati mengantarkanku, sampai juga di bandara setelah melakukan perjalanan satu jam dari rumahku. Erwin-pun memilih memakirkan sepedanya di parking lot yang searah dan tepat di depan terminal keberangkatan, biar aku tidak terlalu jauh berjalan. Erwin memang ngerti kalo aku males jalan jauh. Karena sudah memasuki waktu magrib, erwin memilih sholat terlebih dahulu di musholla bandara, sedangkan aku memutuskan untuk ngantri check in di counter air asia. Lima belas menit kemudian, kami bertemu di depan pintu masuk penumpang. Aku dan erwin memutuskan untuk duduk2 sebentar di counter dunkin donuts karena tempat duduk dibandara sudah lumayan penuh. Tentunya agar boleh nongkrong disana kami harus membeli beberapa produknya.
Setelah beberapa menit, sempat ngobrol2 sebentar, jam tujuh kurang seperempat, aku memutuskan untuk segera masuk dan menuju ke gate yang sudah ditentukan. Kami sempet salaman dulu, dadagh2, dan saling mengucapkan ati2.
45 menit kemudian…
Dalam perjalanan menuju boarding room, tiba2 saja handphone samsungku berdering. Erwin menelponku meski baru beberapa menit yang lalu kami ngobrol diluar. “Yang.., motorku kok ga ada yah diparkiran?” begitu katanya. Spontan kaget saya ngedengernya “Hah???!! yang bener? Mungkin lupa parkirnya disebelah mana?”. Tidak lama kemudian erwin kembali menelponku “belum ketemu…, sepertinya ilang”. Aku enggak tau harus komentar apa. Ya Allah, motornya ilang setelah nganter aku. Akupun diliputi perasaan bersalah, puyeng dan bingung. Bingung antara pengen keluar dari ruang boarding dan segera ikut nyari rame2 dengan petugas parkir bandara ato mengikuti perintah petugas untuk segera masuk ke pesawat. Yang malah saya lakukan adalah sms ke seluruh keluarga, mas soni, ibu dan kakak iparku mas pulung memberitakan masalah ini. Entah mereka bisa membantu ato apa. Sambil berdiri bingung, akupun menelpon erwin bertanya sekali lagi untuk memastikan keadaan, ternyata motor belum juga diketemukan. Aku udah pengen nangis, uda ga pengen berangkat namun erwin meyakinkan dan memintaku untuk tetap berangkat. Aku pun segera masuk ke pesawat dengan diliputi kegundahan hati, cemas dan tentunya perasaan bersalah yang mendalam.
5 menit setelah take off
Selama didalam pesawat, pikiranku enggak berhenti bertanya-tanya. Bagaimana motor yang diparkir di bandara, yang masuk dan keluar bandara saja harus diperiksa dua kali, salah satunya harus melewati pos PM tetap bisa kecolongan. Parkir yang sedianya dikelola dengan menjual jasa dan rasa aman, justru menjadi momok bagi para pengendara dan sasaran empuk pencurian. Jasa Parkir saat ini merupakan komoditi yang menguntungkan harusnya, bayarnya mahal per jam tapi tidak aman. Dan pada saat terjadi kehilangan semacam ini, pihak pengelola justru lepas tangan, padahal setiap harinya mereka memperoleh keuntungan yang tidak sedikit. Enak bener jadi pengelola parkir, rasanya jadi seperti bentuk usaha tanpa risiko. Kalo ilang tanggung sendiri ruginya. Lalu untuk apa kita bayar??! Huh…
Nulisnya sambil sebel, sebel banget..
sabar fen yo….. nanti saya tulis juga di blognya mas
sabar….. sabar
iya.. customer selalu dirugikan. memang sih customer itu raja. Tapi pengusaha tetap aja jadi rajanya raja.
thank bwt apa yg aq rasain slama ini, mgkn ni pelajrn brhga bwt smua.awalnya emang sedih tp ktk qta betul2 pasrah ma takdir akan merasa hdp ini jd bijak.sebesar apapun itu mslh,knds or ketdk enakkan serahkanlah ma yg pny takdir.
semoga hari ini menyenangkan n ga sebel lg ya tante:)
ttp semangat!
yang tabah mas erwin dan mbak fenti.
Lagian di dalam bandara pakai karcis khan *geleng-geleng heran